Wonogiri (Humas) – Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Wonogiri melalui seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKIS) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) persiapan Hari Santri Nasional sekaligus sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan di pondok pesantren pada Senin, (21/9/2026) di Rumah Makan Alami Sayang, Ngadirojo. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, ramah, damai, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan.
Dalam laporannya, Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kankemenag Wonogiri, Mursidi, menyampaikan sejumlah hal yang menjadi perhatian dalam rakor. Salah satunya terkait surat dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah mengenai pelaksanaan diseminasi atau publikasi gerakan Stop Kekerasan di Pondok Pesantren.

“Beberapa hal yang kami sampaikan, pertama terkait surat dari Kakanwil tentang pelaksanaan diseminasi atau publikasi stop kekerasan di pondok pesantren. Kemudian yang kedua terkait persiapan Hari Santri,” jelas Mursidi.
Menurutnya, peringatan Hari Santri perlu dimaknai dan dimeriahkan bersama oleh seluruh elemen pesantren. Keterbatasan anggaran tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menyelenggarakan kegiatan yang positif dan bermanfaat.
“Tidak ada anggaran bukan menjadi halangan untuk menyelenggarakan kegiatan. Bisa dilakukan dengan kegiatan sederhana seperti roan atau kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren, maupun khataman Al-Qur’an,” ungkapnya.
Selain itu, rakor juga membahas rencana pelaksanaan sarasehan dan pelantikan pengurus Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) untuk kepengurusan lima tahunan. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana memperkuat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi dan sinergi antarpondok pesantren di Kabupaten Wonogiri.

Sementara itu, Kepala Kankemenag Kabupaten Wonogiri, Hariyadi, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan menyampaikan bahwa rakor tersebut memiliki arti penting, khususnya dalam upaya menciptakan lingkungan pondok pesantren yang aman dan kondusif.
“Dari pimpinan kita didorong untuk menciptakan pondok pesantren yang anti-bullying dan anti-kekerasan. Mari kita ciptakan pesantren yang ramah, damai dan menyejukkan,” tegas Hariyadi.
Ia mengajak seluruh pengelola pondok pesantren untuk menjadikan berbagai kasus yang pernah terjadi sebagai pembelajaran dan bahan evaluasi bersama agar tidak terulang di kemudian hari.
“Dari kasus-kasus sebelumnya, mari kita jadikan sebagai pelajaran untuk ke depannya. Kita bersama-sama membangun pesantren yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh santri,” lanjutnya.
Terkait peringatan Hari Santri Nasional, Hariyadi menjelaskan bahwa peringatan tersebut merupakan bentuk apresiasi dan penghargaan atas perjuangan para kiai dan ulama serta kontribusi santri dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Tanggal 22 Oktober menjadi momentum penting karena menjadi titik pengakuan negara terhadap peran dan kontribusi pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Peringatan Hari Santri menjadi bentuk apresiasi terhadap perjuangan para kiai dan ulama. Tanggal 22 Oktober menjadi titik penting diakuinya pondok pesantren sebagai bagian dari perjalanan bangsa dan negara,” jelasnya.
Melalui rakor tersebut, Kankemenag Wonogiri berharap persiapan Hari Santri dapat dilakukan secara bersama-sama dengan semangat kebersamaan. Di sisi lain, komitmen pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pesantren terus diperkuat sehingga pesantren benar-benar menjadi tempat pendidikan yang aman, nyaman, berkarakter, dan menyejukkan bagi para santri.







