Wonogiri (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Wonogiri dalam mendukung pembinaan kerohanian dan peningkatan literasi bagi warga binaan. Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan koordinasi yang berlangsung di Kantor Kemenag Kabupaten Wonogiri, Selasa (20/10/2026).

Kepala Lapas Wonogiri, Prawira Hadiwidjojo, menyampaikan bahwa kerja sama antara Lapas dan Kemenag selama ini telah berjalan dengan baik, terutama melalui kegiatan pembinaan rutin setiap Selasa dan Jumat serta pada peringatan hari-hari besar keagamaan.
Ia berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus ditingkatkan sehingga memberikan hasil nyata bagi lembaga pemasyarakatan maupun warga binaan.
“Harapannya, melalui kolaborasi yang baik ini, kita dapat menghasilkan output yang positif bagi Lapas dan warga binaan. Salah satunya melalui program pesantren bagi warga binaan, sehingga mereka semakin dekat dengan Tuhan dan memiliki bekal spiritual untuk menjalani kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.

Menurutnya, pembinaan kerohanian perlu dilaksanakan secara inklusif dengan memperhatikan kebutuhan warga binaan dari berbagai latar belakang agama. Selain itu, program literasi juga menjadi perhatian penting untuk membiasakan warga binaan membaca, memperluas wawasan, dan meningkatkan pengetahuan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri, Hariyadi, menyambut baik sinergi yang telah berjalan tersebut. Ia menegaskan bahwa pembinaan kerohanian Islam yang selama ini dilaksanakan perlu terus ditingkatkan agar semakin memberikan manfaat bagi warga binaan.
“Kegiatan pembinaan kerohanian Islam yang selama ini sudah berjalan mari kita tingkatkan kembali. Demikian juga dengan program literasi, Kemenag siap mendukung upaya Lapas Wonogiri dalam meningkatkan minat baca dan memperluas wawasan warga binaan,” ujarnya.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen Kemenag Wonogiri dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang berdampak, tidak hanya bagi masyarakat di luar lembaga pemasyarakatan, tetapi juga bagi warga binaan yang membutuhkan pendampingan spiritual dan penguatan karakter.

Sementara itu, Plt. Kasubbag Tata Usaha Kemenag Wonogiri, Harno, menjelaskan bahwa Kemenag memiliki sumber daya manusia yang dapat mendukung pembinaan kerohanian lintas agama. Menurutnya, penyuluh dan pembina keagamaan dari berbagai agama dapat dilibatkan sesuai kebutuhan dan jadwal kegiatan yang disepakati bersama.
Ia menyampaikan bahwa Kemenag Wonogiri memiliki lima penyuluh agama Kristen, tiga penyuluh agama Katolik, dan dua penyuluh agama Buddha. Potensi tersebut dapat dioptimalkan untuk mendukung program pembinaan kerohanian bagi warga binaan sesuai agama masing-masing.
“Ketika program sudah berjalan dan jadwalnya disusun bersama, sumber daya yang ada di Kemenag dapat dikoordinasikan untuk mendukung pembinaan kerohanian, baik bagi warga binaan beragama Islam maupun non-Islam,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Kasi Bimas Islam Kemenag Wonogiri, Heru Budi Santosa, menyampaikan bahwa kerja sama pembinaan dengan Lapas Wonogiri telah berlangsung hampir dua tahun. Pelaksanaan kegiatan, termasuk pembinaan pada bulan Ramadan lalu, telah berjalan dengan baik dan menjadi modal untuk memperkuat program ke depan.
Melalui penguatan koordinasi ini, Kemenag Wonogiri dan Lapas Wonogiri diharapkan dapat mengembangkan program pembinaan yang berkelanjutan, meliputi penguatan spiritual, pembentukan karakter, peningkatan literasi, serta pelayanan keagamaan yang inklusif. Sinergi tersebut menjadi wujud nyata pelayanan berdampak, dengan memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk memperbaiki diri, meningkatkan pengetahuan, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.






