Wonogiri (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri mendukung pelaksanaan Temu Pelajar Kristen dan Katolik Tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Wonogiri bertema “Calling” sebagai upaya memperkuat keimanan, membentuk karakter, serta menumbuhkan semangat kerukunan di kalangan generasi muda. Kegiatan yang berlangsung Selasa, (21/7/2026) di RM Laras Slogohimo ini menghadirkan para romo, suster, bruder, dan pendeta dari Solo sebagai narasumber.

Ketua panitia, Suparto, menyampaikan bahwa kegiatan diikuti oleh 421 pelajar yang terdiri atas 208 siswa beragama Kristen dan 213 siswa beragama Katolik. Ia menjelaskan, jumlah peserta seharusnya lebih banyak, namun beberapa siswa kelas XII belum dapat mengikuti kegiatan karena pada hari yang sama melaksanakan Tes Kompetensi Akademik (TKA). Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan yang penting mengingat masih terdapat sejumlah sekolah yang belum memiliki guru agama.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri, Hariyadi, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Temu Pelajar “Calling” merupakan bagian dari upaya memperkuat kehidupan beragama sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan dengan bekal iman dan karakter yang kuat.

“Pertemuan ini merupakan bagian dari pemantapan keagamaan para siswa. Melalui kegiatan seperti ini, mereka dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan di masa mendatang dengan jati diri yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki. Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” pesan Hariyadi.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan kerukunan antarumat beragama sejak usia sekolah sebagai implementasi nilai-nilai moderasi beragama. Menurutnya, semangat kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan ini menjadi modal penting untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis. Sebagai bentuk komitmen dalam memberikan layanan pembinaan keagamaan yang berdampak,

Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri terus menerjunkan penyuluh agama ke sekolah-sekolah untuk memberikan pembinaan dan pendampingan kepada para siswa, termasuk di sekolah yang belum memiliki guru agama. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat keimanan, karakter, dan semangat toleransi generasi muda sehingga mampu menjadi pribadi yang religius, berintegritas, serta menjaga kerukunan di tengah masyarakat.







